Sabtu, 05 Januari 2019

Sedikit Kisah Pendidikan Najma

Najma Putri Sintia kelahiran Kuningan, 25 September 2002 dari seorang ayah yang bernama Tabroni dan ibu bernama Wahidatussalamah. Yang kini memiliki 2 adik laki laki, pertama terpaut 5 tahun dengannya dan si bungsu terpaut 12 tahun.
Ketika lulus TK, ia tidak melanjutkan ke sekolah yang islami, atau yang sering disebut dengan nama Madrasah Ibtidaiyah. Tetapi ia melanjutkan ke sekolah umum (SD). Ya, karena di kampung halamannya hanya ada SD, tidak ada MI. Kemudian setelah tamat sekolah dasar, ia melanjutkan pendidikannya ke Madrasah Tsanawiyah dan pulangnya pun bukan ke rumah, tapi ke pondok. Ketika SD dan MTs, ia cukup banyak meraih prestasi. Diantaranya juara lomba calistung (baca tulis hitung), aksara sunda, cerdas cermat, dll (saat di sekolah dasar) dan membaca kitab kuning yang gundul, hadhroh, MIPA, dll (saat Tsanawiyah). Ia juga selalu mendapat peringkat peringkat pertama di kelasnya dari mulai duduk di sekolah dasar hingga ia lulus dari Tsanawiyah. Dari lomba lomba tersebutlah, ia cukup mendapatkan banyak sertifikat. Mungkin hanya 1 bidang yang tidak ia sukai, yaitu olahraga. 3 bulan sebelum lulus dari Tsanawiyah, ia mulai mencari sekolah untuk melanjutkan pendidikannya. Terpilihlah satu Sekolah Menengah Atas Al-Manar Azhari Boarding School yang letaknya di luar daerah, yaitu di kota Depok, Jawa Barat. Yang biaya masuknya pun tidak cukup dengan uang yang nominal angkanya berjumlah 6, tapi harus yang nominalnya 8 angka. Sehingga ia memberanikan diri untuk menyatakan keinginannya kepada orangtua bahwa ia ingin masuk ke sekolah tersebut. Setelah mendengar keinginan sang anak, ayahnya tidak langsung meng-acc. Setelah dipikir-pikir, akhirnya sang ayah pun memperbolehkan. Sebelum masuk ke Almanar, ia menjalani beberapa tes. Yang diantaranya tes akademik online dan tes lisan, yang harus datang langsung ke SMA Al-Manar Azhari.
Selang 1 minggu setelah melewati beberapa tes, akhirnya keluar pengumuman yang menyatakan bahwa ia diterima di SMA Al-Manar Azhari BS.
Najma bukan berasal dari keluarga yang kaya, tetapi ia berasal dari keluarga yang sederhana. Profesi kedua orangtuanya pun bukan seorang dokter, bidan, PNS, polisi, dosen, dsb. Tetapi ayahnya hanya berprofesi sebagai pedagang kaki lima dan ibunya sebagai ibu rumah tangga. Berbanding terbalik dengan teman-temannya yang berasal dari keluarga kaya, yang mungkin segala sesuatunya pun harus elite. Sedikit sulit memang beradaptasi dengan orang kota, yang gaya hidupnya itu 'waw', serta gaya bahasanya yang menggunakan lo-gue. Berbeda dengan najma yang biasanya aku-kamu.
Satu tahun telah terlewati, ia mampu mempertahankan prestasi yang selalu ia raih dari mulai sekolah dasar. Yaitu peringkat 1 di kelasnya. Ia juga sempat mengikuti beberapa lomba dikota depok, ada yang mendapat juara, ada juga yang tidak. Sekarang ia duduk di kelas XI. Kebetulan di Al-Manar ada program tahfidz Qur'an. Ia pun mengikuti program tersebut di pertengahan semester pertama kelas XI.
Kini liburan semester satu tiba. Teman-temannya berlibur di daerahnya masing-masing, ada juga yang berlibur ke luar negeri. Najma, memilih menetap di pondok untuk melanjutkan hafalan Al-Qur'annya selama liburan berlangsung, ±2 pekan. Kemarin, ia memberi kabar mengejutkan yang membuat keluarga bahagia. Ia telah menuntaskan hafalannya. Alhamdulillah, hari ini, tepatnya hari Ahad tanggal 6 Januari 2019/28 Rabi'ul Akhir 1440 engkau wisuda.  MASYAALLAH, gelar hafidzah telah kau raih. Yang kurang lebih selama 6 bulan proses menghafalnya. Selamat sayangđź’—

Sedikit Kisah Pendidikan Najma

Najma Putri Sintia kelahiran Kuningan, 25 September 2002 dari seorang ayah yang bernama Tabroni dan ibu bernama Wahidatussalamah. Yang kini ...